Waspada Terhadap Sepak Terjang Antek-Antek Singapura Ganyang Singapura! Andai saja Bung Karno hidup di masa sekarang, maka niscaya slogan yang beliau canangkan adalah Ganyang Singapura!, bukan lagi Ganyang Malaysia seperti era 60-an lalu. Beliau pasti geram melihat tanah air bumi pertiwi perlahan-lahan dikuasai oleh Singapura. Negara tetangga yang satu ini bukanlah tetangga baik dan itu telah terbukti di banyak hal. Siapapun tahu bahwa Singapura adalah tempat yang paling ideal untuk menampung koruptor yang kabur dari Indonesia. Puluhan koruptor asal Indonesia hidup nyaman dan tenteram karena difasilitasi dengan baik oleh Singapura. Hasil koruptor mereka dipakai untuk membangun negeri itu. Pasir yang mereka gunakan juga berasal dari Kepulauan Riau. Puluhan pulau di sekitar perbatasan Indonesia-Singapura habis dikeruk guna memperluas daratan Singapura. Belum cukup puas dengan menampung koruptor dan mengeruk pasir, lewat perusahaannya yang bernama Temasek, Singapura mencoba menginfiltasi Indonesia lewat sektor telekomunikasi dan perbankan. Sekarang Temasek telah terlanjur mengusai mayoritas saham di Indosat dan Telkomsel. Temasek juga sekarang menjadi juragan dari delapan bank di Indonesia. Infiltrasi Temasek di sektor telekomunikasi dan perbankan patut diwaspadai. Apalagi, dengan menguasai Indosat maka bukan hanya operator seluler yang dikuasai, tapi juga satelit dan sarana komunikasi lainnya. Seluruh jalur komunikasi dan transaksi keuangan Indonesia akan diintai dengan mudah oleh Singapura. Pengambilalihan saham-saham perusahaan telekoumikasi dan perbankan oleh Temasek adalah sederetan tarnsaksi yang paling nista dalam sejarah republik ini. Kongkalingkong dan persekongkolan busuk antara pejabat dan pengusaha Singapura dengan antek-anteknya yang ada di negeri ini. Tak sulit untuk menemukan antek-antek Singapura dan Temasek di negeri ini karena mereka bertebaran dimana-mana. Biasanya mereka ada lingkaran aparat birokrat jajaran atas, mulai dari menteri sampai eselon I di beberapa departemen sudah ada digaji Temasek. Belum lagi pengusaha dan anggota DPR yang hidup-matinya tergantung dari kemurahan hati Singapura. Mereka tak lebih dari budak-budak Singapura. Beranikah pemerintahan SBY untuk mengembalikan kedaulatan RI yang telah dirampok Singapura? Sudah saatnya untuk menghentikan perampokan aset dan infiltrasi Singapura di Indonesia. Sejarah Temasek Sejarah Temasek erat kaitannya dengan pembangunan ekonomi Singapura sejak kemerdekaan negara ini. Pada tahun 1965, ketika perekonomian stagnan, Singapura tidak memiliki sektor swasta yang kuat untuk mendukung pertumbuh­an. Karenanya pemerintah harus memainkan perannya sebagai pengusaha untuk mempercepat laju perekonomian. Salah satu strategi yang diterapkan untuk ini adalah membentuk apa yang disebut sebagai perusaha­an pemerintah atau government-linked companies (GLC) sebagai penyedia jasa yang diperlukan untuk meningkatkan perekonomian, seperti jasa perbankan, penerbangan, pertelekomunikasian, kepelabuhanan dan kelis­trikan. Investasi modal ini awalnya dikelola oleh Kementerian Keuangan, dan kemudian dialihkan ke Temasek Holdings yang didirikan pada tahun 1974, termasuk sekitar 35 perusahaan yang nilainya sebesar S$ 350 juta. Alasan didirikannya Temasek oleh mantan Perdana Menteri Lee Kuan Yew adalah agar ada satu badan yang memisahkan pemerintah dengan investasi yang ditanamnya sehingga peran pemerintah sebagai pemilik dan pemegang saham tidak bercampur dengan tugasnya sebagai pembuat kebijakan dan regulator pasar. Berkaitan dengan ini, perusahaan pemerintah atau GLC secara tidak resmi diberi mandat untuk beroperasi sebagai badan usaha niaga. Sejak tahun 1974 sampai dengan akhir tahun 1990-an, Temasek beroperasi sebagai perusahaan investasi induk yang sifatnya pasif, dan tugasnya adalah mengawasi dan memantau berbagai perusahaan di bawahnya, yang pada saat itu hampir semuanya berada di Singapura. Sebagian besar anak perusahaannya berkembang menjadi perusahaan yang terkemuka di Singapura seperti Neptune Orient Lines, Singapore Technologies Engineering, Keppel Corporation, SembCorp Industries dan PSA International. Menurut data pemerintah, pada tahun 2002, 13% PDB Singapura berasal dari berbagai perusahaan ini. Struktur politik Singapura bersifat korporatis, dan sebagian besar perusahaan dikuasai oleh negara agar strategi yang menyeluruh bisa dijalankan, dan berkaitan dengan ini, pemerintah sudah memasukkan Temasek ke dalam cetak biru perekonomian 2002 dengan tujuan mempercepat laju pertumbuhan ekonomi Singapura. Dalam salah satu pidatonya sebagai pimpinan Temasek, Ho Ching menjelaskan strategi yang baru ini, yaitu bahwa Temasek akan “berupaya mengubah portofolionya yang saat ini mewakili PDB Singapura menjadi portofolio dengan PNB seimbang, dengan memanfaatkan pertumbuhan Singapura, ASEAN, Asia dan dunia.” Implikasi dari persoalan ekonomi Temasek yang didasari kepentingan politik adalah bagaimana kita harus menganalisis upaya investasi yang dilakukannya. Temasek harus mempertimbangkan masalah komersial, dan di samping itu perusahaan ini juga harus menerapkan strategi yang lebih baik dalam mengelola portofolio investasinya. Selain mendorong perkembangan ekonomi eksternal, tujuan perusahaan lainnya adalah mempromosikan sejumlah industri yang dapat mendukung laju perekonomian dan melindungi berbagai aset strategis. Investasi yang diajukan oleh Temasek harus memperoleh persetujuan dari pemiliknya, yaitu Kementerian Keuangan, dan dari sini bisa dilihat bahwa Temasek tidak boleh menyimpang jauh dari tujuan nasional yang sudah ditetapkan. Temasek Charter Dalam bentuknya yang singkat, Temasek Charter merupakan rumusan misi dan arah yang harus dijalankan dan ditempuh badan investasi milik negara ini. Sesuai dengan piagam ini, fokus strategi Temasek berubah, yaitu dari perusahaan induk yang sekadar mengelola modal yang ditanam oleh pemerintah Singapura untuk kepentingan jangka panjang negara, menjadi perusahaan yang sekaligus juga membentuk dan mengembangkan perusahaan yang mampu bersaing di dunia internasional. Dengan kata lain, tujuan perusahaan saat ini adalah menjadi investor strategis jangka panjang. Dalam piagam tersebut, Temasek untuk pertama kalinya, membagi perusahaan di bawahnya menjadi perusahaan “Grup A” dan “Grup B”. Yang termasuk dalam Grup A adalah perusahaan yang perlu dimiliki dan dikendalikan pemerintah karena alasan strategis, antara lain alasan kebijakan publik dan pemanfaatan sumber daya yang penting untuk perekonomian dan pertahanan Singapura. Yang termasuk dalam perusahaan jenis ini adalah perusahaan air minum, listrik dan gas, pelabuhan udara dan laut (dilihat dari sumber daya penting); dan usaha olah raga, penyiaran, layanan kesehatan bersubsidi, pendidikan dan perumahan, serta berbagai sarana umum seperti kebun binatang (dilihat dari kebijakan umum). Meskipun tidak disebutkan, perusahaan semacam MediaCorp, Singapore Power dan ST Engineering termasuk aset strategis dan Temasek perlu memiliki saham mayoritas atas perusahaan tersebut. Perusahaan Grup B adalah usaha “yang berpotensi tumbuh tidak hanya di pasar dalam negeri tetapi juga di pasar regional atau internasional.” Yang termasuk jenis ini adalah perusahaan pemerintah atau GLC seperti SingTel, DBS dan PSA yang sudah merambah ke pasar luar negeri. Untuk perusahaan-perusahaan semacam ini, Temasek menyatakan “bersedia memperkecil prosentase kepemilikannya dengan menerbitkan saham baru atau melakukan penggabungan usaha atau akuisisi guna mendukung keberhasilan perusahaan tersebut dalam jangka panjang sebagai pemain regional atau internasional.” Memposisikan Diri sebagai Lembaga Investasi Asia Sementara itu Temasek juga dengan sengaja memposisikan diri sebagai perusahaan induk investasi Asia dan bukan sebagai perusahaan investasi milik pemerintah Singapura. Untuk menghilangkan kesan bahwa Temasek dan perusahaan di bawahnya adalah perusahaan yang dikendalikan pemerintah, Temasek mengganti sebutan perusahaan pemerintah (GLC) menjadi perusa­haan Temasek (Temasek-linked companies).